Sidak Coffee Shop Solo Temukan Pelanggaran hingga Jual Nama Wali Kota

Sidak Coffee Shop Solo Temukan Pelanggaran hingga Jual Nama Wali Kota
Istimewa Rombongan legislator Komisi III DPRD Sooo melakukan Sidak coffee shop di City Walk Jalan Slamet Riyadi, Sabtu (25/4/2026) malam.

Celebeszone.com, SOLO — Rombongan legislator Komisi III DPRD Solo melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap operasional coffee shop di City Walk Jalan Slamet Riyadi dan City Walk Jalan Ronggowarsito pada Sabtu (25/4/2026) malam.

Sidak yang dipimpin Ketua Komisi III DPRD Solo, Taufiqurrahman, dan Sekretaris Komisi III DPRD Solo, Sonny, tersebut menemukan sejumlah pelanggaran serta catatan merah terkait operasional coffee shop.

Pantauan Espos, sidak dimulai dari sekitar Margi Coffee di City Walk Jalan Slamet Riyadi, tepatnya di barat Simpang Ngapeman. Di sekitar lokasi itu ditemukan meja dan kursi pengunjung coffee shop menutup jalur kuning yang merupakan akses khusus bagi penyandang disabilitas netra.

Selain itu, ditemukan pula tumpukan sepeda motor yang diparkir di City Walk Jalan Slamet Riyadi melewati garis kuning di sisi utara. Seharusnya parkir kendaraan tidak boleh melewati garis kuning tersebut. Akibatnya, pejalan kaki kesulitan melintas di kawasan city walk tersebut.

“City Walk ini digunakan tidak semestinya, salah satunya parkir terlalu melebar sehingga orang berjalan kaki saja kesulitan. Akses penyandang disabilitas netra juga tertutup,” sesal Taufiqurrahman.

Ia juga menyoroti munculnya banyak coffee shop baru yang pada saat pendataan potensi parkir tahun 2025 belum ada.

Politikus Partai Golkar itu menilai perlu adanya pembaruan data parkir agar tidak ada potensi retribusi yang hilang.

“Kita melihat juga ternyata banyak pengusaha kopi yang baru. Ini berarti retribusinya perlu dinaikkan. Kalau selama ini cuma Rp180 juta per tahun [citywalk], ya seharusnya dinaikkan. Itu per bulannya sekitar Rp15 juta. Kalau 60-40 persen, yang 40 persennya Rp6 juta kan yang disetorkan ke kas daerah. Kan 40 persen yang disetorkan. Untuk 60 persen yang untuk pengelola,” urainya.

Taufiq mengakui sepanjang City Walk Jalan Slamet Riyadi banyak titik baru parkir kendaraan yang harus dimasukkan ke dalam database.

Penuturan senada disampaikan Sonny dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Menurut dia, sudah terlalu banyak aduan warga di aplikasi Ulas terkait aktivitas coffee shop di City Walk Jalan Slamet Riyadi.

“Ini kami mau tertibkan semua yang banyak warga protes di Ulas, termasuk akses penyandang disabilitas. Itu masyarakat banyak yang protes, termasuk yang digunakan untuk parkir motor dan duduk-duduk para pembeli coffee shop,” tutur legislator asal Laweyan tersebut.

Sonny menjelaskan City Walk Jalan Slamet Riyadi merupakan tanggung jawab DPUPR Solo yang merupakan mitra kerja Komisi III DPRD Solo.

Ia mengaku kaget saat sidak bertemu dengan salah satu pengusaha coffee shop yang mengungkapkan adanya pelaku usaha lain yang mengaku sebagai teman Wali Kota Solo, Respati Ardi.

Pengusaha coffee shop yang bercerita kepada Sonny adalah Jefri, salah satu pengusaha coffee shop di timur Simpang Ngapeman. Ia mempertanyakan asas keadilan dalam berusaha sebagai sesama pengusaha kedai kopi di City Walk.

“Tempat kami rapi, tapi saya lihat di sana [sisi barat citywalk] kok begitu. Mentang-mentang selalu andalannya temannya Mas Wali. Loh kita semua temannya Mas Wali. Tapi aturan ya aturan. Tindak tegas dong kalau melanggar. Kalau enggak ada sanksi, apa bedanya? Percuma bikin aturan kalau tidak ada tindakan tegas,” pinta Jefri.

Mendapat cerita seperti itu, Sonny mengaku geram dan meminta adanya tindakan tegas dari Pemerintah Kota Solo.

“Iya ini tadi saya kaget dari beliau pengusaha. Kami ingin jangan ada kesenjangan di sini. Aturan harus ditegakkan. Kami akan evaluasi, ke depan setiap pelanggaran harus ditindak. Kita ingin Solo rapi dan tidak membeda-bedakan. Karena tadi muncul seperti anak tiri begitu. Kami berharap semua coffee shop ikut aturan,” ungkapnya.

Sementara itu, Anggota Komisi III DPRD Solo, Joni Sofyan Erwandi, membuka ruang komunikasi lebih intens dengan para pelaku usaha coffee shop.

“Sidak ini sebagai monitoring dan evaluasi. Ya mungkin ke depannya akan kita panggil [pengusaha coffee shop] yang satu deret ini untuk mengawasi jalannya praktik usaha di sini,” tutur politikus PDIP itu.

Leave a Reply