Harga Kedelai Naik, Perajin Tempe Magetan Perkecil Ukuran

Harga Kedelai Naik, Perajin Tempe Magetan Perkecil Ukuran
Salah satu perajin tempe di Desa Ngariboyo, Kecamatan Ngariboyo, Kabupaten Magetan, saat memproduksi tempe, Jumat (26/6/2026). (Espos.id/Imam Mustajab)

Celebeszone.com, MAGETAN — Kenaikan harga kedelai impor yang diperparah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memukul perajin tempe di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Agar harga jual tidak naik dan tetap terjangkau bagi konsumen, sebagian perajin memilih memperkecil ukuran tempe sekaligus mengurangi kapasitas produksi.

Salah satu perajin tempe di Desa Ngariboyo, Kecamatan Ngariboyo, Agung Pambudi, mengatakan lonjakan harga kedelai, plastik pembungkus, hingga bahan penunjang produksi membuat pelaku usaha harus mencari cara agar tetap bertahan.

“Kalau saya memilih tidak menaikkan harga jual tempe, tapi mengurangi kapasitas produksi serta memperkecil ukuran kemasan,” ujarnya, Jumat (26/6/2026).

Menurut Agung, harga kedelai impor per 50 kilogram naik dari sekitar Rp400.000 menjadi Rp450.000. Kenaikan juga terjadi pada harga ragi yang meningkat dari sekitar Rp25.000 menjadi Rp28.000 per wadah.

Selain itu, harga plastik kemasan melonjak dari sekitar Rp80.000 menjadi Rp125.000 per rol sehingga biaya produksi terus membengkak.

“Kapasitas produksi harian juga saya kurangi, dulu sekitar 1,5 kuintal tempe per hari, kini produksinya hanya sekitar satu kuintal per hari,” jelasnya.

Pilih Perkecil Ukuran agar Harga Tetap Terjangkau

Meski biaya produksi meningkat, Agung mengaku belum berani menaikkan harga jual tempe. Ia khawatir pelanggan beralih ke produsen lain apabila harga dinaikkan.

Sebagai jalan tengah, ia mengurangi berat isi dan ukuran kemasan secara bertahap sambil berupaya agar perubahan tersebut tidak terlalu dirasakan konsumen.

“Kami mempertahankan harga supaya pelanggan tetap membeli. Solusinya, ukuran dan isi tempe sedikit disesuaikan,” kata dia.

Agung menilai perajin tempe skala kecil di Magetan harus terus beradaptasi selama harga bahan baku masih tinggi. Ia berharap harga kedelai dan bahan penunjang produksi kembali stabil sehingga usaha yang menjadi sumber penghidupan banyak keluarga dapat terus bertahan.

Leave a Reply