BSB Wonogiri Sulap Sampah Plastik Jadi Bensin, Siap Dikembangkan Bareng BRIN

BSB Wonogiri Sulap Sampah Plastik Jadi Bensin, Siap Dikembangkan Bareng BRIN
Proses pemilahan sampah di BSB Krandegan Wonogiri. (Istimewa/BSB)

Celebeszone.com, WONOGIRI – Sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM) oleh Bank Sampah Berseri (BSB) Krandegan, Kecamatan Bulukerto, Kabupaten Wonogiri. Inovasi sampah plastik jadi bensin itu dikembangkan menggunakan teknologi pirolisis dengan peralatan rakitan sendiri.

Koordinator Bank Sampah Berseri, Riyanto, mengatakan inovasi tersebut menjadi salah satu program unggulan BSB dalam meningkatkan nilai guna sampah anorganik. Pengembangan teknologi itu telah dimulai sejak sekitar tiga tahun lalu dan melibatkan Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam proses uji cobanya.

“Tahun lalu sudah dengan UGM, tahun ini dengan BRIN. Pengembangan ini nanti akan dibantu BRIN untuk menyempurnakan alatnya agar lebih baik,” kata Riyanto saat diwawancarai Espos belum lama ini.

Menurut Riyanto, kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dijadwalkan berlangsung pada 18 November 2026, bertepatan dengan peringatan hari ulang tahun Bank Sampah Berseri. Melalui kerja sama tersebut, BSB berharap teknologi pengolahan sampah plastik menjadi bensin bisa dikembangkan dengan hasil yang lebih optimal.

Selama ini, BSB menggunakan alat pirolisis sederhana yang dirakit secara mandiri dengan modal sekitar Rp300.000. Meski dibuat dengan biaya relatif murah, alat tersebut sudah bisa digunakan untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar.

Riyanto menjelaskan setiap 30 kilogram sampah plastik yang diproses dapat menghasilkan sekitar tiga liter bahan bakar. Hasilnya bergantung pada jenis dan karakteristik plastik yang diolah.

“Pada dasarnya semua sampah plastik itu bisa diolah menjadi bensin atau bahan bakar. Alatnya cukup sederhana, kami membuat sendiri dengan modal Rp300.000, tetapi sudah bisa berproduksi,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengklaim hasil pengolahan tersebut memiliki angka oktan atau research octane number (RON) sekitar 91. Secara karakteristik, cairan bahan bakar yang dihasilkan berwarna kekuningan, menyerupai bensin yang dikenal masyarakat pada masa lalu.

BBM hasil pengolahan sampah plastik itu saat ini dimanfaatkan untuk mendukung operasional kendaraan BSB. Kendaraan tersebut digunakan dalam kegiatan pengambilan dan pengangkutan sampah dari wilayah yang bekerja sama dengan bank sampah.

BSB kini menjangkau sekitar 55 desa, dengan 50 desa di antaranya telah menjalin kerja sama. Jangkauan tersebut membuat kebutuhan operasional kendaraan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan bank sampah.

Riyanto mengatakan bahan bakar hasil pirolisis itu memiliki karakteristik yang dinilai mendekati bensin yang beredar di pasaran. Namun, penggunaannya masih memiliki kendala yang perlu diperbaiki melalui penelitian dan pengembangan lebih lanjut.

Salah satu persoalan yang ditemukan adalah kondisi busi kendaraan. Menurut dia, busi perlu diperiksa setiap tiga bulan sekali ketika kendaraan menggunakan bahan bakar hasil pengolahan sampah plastik tersebut.

Kendala itu menjadi salah satu aspek yang akan menjadi perhatian dalam pengembangan bersama BRIN. BSB berharap penyempurnaan alat dan proses pengolahan dapat menghasilkan bahan bakar yang lebih bersih sehingga residu yang berpotensi mengganggu komponen mesin bisa dikurangi.

“Setiap tiga bulan sekali biasanya kami harus mengecek busi kendaraan. Pengembangan bersama BRIN nanti salah satunya untuk menyempurnakan hasilnya agar lebih bersih,” kata Riyanto.

Dia berharap dukungan BRIN dapat meningkatkan kualitas teknologi yang selama ini dikembangkan secara mandiri. Dengan begitu, pengolahan sampah plastik menjadi BBM tidak hanya menjadi inovasi untuk mengurangi timbunan sampah, tetapi juga bisa memberikan manfaat langsung bagi operasional pengelolaan sampah.

Riyanto menilai inovasi tersebut menunjukkan bahwa sampah plastik masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan apabila dikelola dengan pendekatan yang tepat. Melalui pengembangan teknologi pirolisis, sampah yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna.

“BSB Krandegan pun berupaya mengembangkan teknologi tersebut agar lebih efektif dan efisien. Kerja sama dengan BRIN diharapkan menjadi langkah lanjutan untuk menyempurnakan alat rakitan sekaligus meningkatkan kualitas bahan bakar yang dihasilkan,” pungkasnya. 

Leave a Reply